Sabtu, 06 Juli 2013

Situs Gunung Padang, Karena Sejarah Harus Dilestarikan

Gerbang masuk situs Megalitikum
Hai wahay bloggers dan pembaca setiaku.......akhirnya gue bisa nulis lagi setelah beberapa hari. Yaaa bisa dibilang agak sibuk. Banyak faktor yang nggak bisa gue ceritakan di sini. Maksud gue nulis blog ini, gue pengin berbagi sedikit pengalaman yang udah gue dapet selama 3 hari. Oh iya kegiatan ini namanya "Lawatan Sejarah". Di laksanakan di 3 tempat, Cianjur, Bogor, dan Sukabumi. Diikutin sama kurang-lebih 150 siswa/i dari berbagai daerah. Ada juga dari Provinsi Bandar Lampung, hebat bukan? Sebelumnya gue berterimakasih sama BPNB (Badan Pelestarian Nilai Budaya) Bandung karena gue bisa mengikutsertakan diri dalam kegiatan ini. Tapi pada kesempatan kali ini, gue hanya ingin ngebahas tentang Situs Megalitikum Gunung Padang yang sangat membuat gue mati penasaran. Check it guys!

Kang Nanang, Narasumber dan Juru Pelihara
Nah, ini merupakan hari yang paling menyenangakan. Menuju Situs Megalitikum Gunung Padang, yang berada di Desa Karyamukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Cianjur, Jawa Barat. Lokasi dapat dicapai 20 kilometer dari persimpangan kota kecamatan WarungKondang, dijalan antara Kota Kabupaten Cianjur dan Sukabumi. Luas kompleks "bangunan" kurang lebih 900 m², terletak pada ketinggian 885 m dpl, dan areal situs ini sekitar 3 ha, menjadikannya sebagai kompleks punden berundak terbesar di Asia Tenggara. Awalnya sih gue nggak tau bahwa di sini ada sebuah peninggalan bersejarah yang sangat menakjubkan, nilai sejarahnya sangat tinggi loh mabro. Situs Gunung Padang ini kurang-lebih berumur 5.900 SM. Situs ini menurut jupel atau juru pelihara Situs Gunung Padang [Kang Nanang]: berumur lebih tua daripada Piramida Giza di Mesir dan Candi Borobudur yang ada di kawasan DI. Yogyakarta. Dan bentuknya hampir mirip dengan yang ada di situs Machu Picchu, Peru. "Ditemukan pada tahun 1914 oleh N.J Krom warga belanda dan seorang Arkeolog dari Belanda. Saat N.J Krom menemukan situs ini masih semak belukar bahkan hutan dan pohon-pohon besar, masih bukit dan belum ketemu batu-batunya. Diduga dulunya adalah makam, biasa dikunjungi untuk berziarah". 


Jalan menuju puncak Gunung Padang
Pada tahun 1979 tiga penduduk setempat, Endi, Soma, dan Abidin, melaporkan kepada Edi, Penilik Kebudayaan Kecamatan Campaka, mengenai keberadaan tumpukan batu-batu persegi besar dengan berbagai ukuran yang tersusun dalam suatu tempat berundak yang mengarah ke Gunung Gede. Selanjutnya, bersama-sama dengan Kepala Seksi Kebudayaan Departemen Pendidikan Kebudayaan Kabupaten Cianjur, R. Adang Suwanda, ia mengadakan pengecekan. Tindak lanjutnya adalah kajian arkeologi, sejarah, dan geologi yang dilakukan Puslit Arkenas pada tahun 1979 terhadap situs ini. Awal Januari- Maret 2013 Tim Terpadu Riset Mandiri yang dipimpin oleh Dr. Danny Hilman Natawidjaja (ahli kebumian), Dr. Ali Akbar (arkeolog), Dr. Andang Bachtiar (paleosedimentolog) kembali melakukan penelitian dan survei lanjutan, menyatakan bahwa, di bawah permukaan Gunung Padang: Ada struktur geologi tak alamiah, dengan hipotesis Teknologi canggih zaman purba.
Kali ini Tim melakukan penggalian arkeologi dan survei geolistrik detil di sekitar penggalian lereng timur bukit, di luar pagar situs cagar budaya.
Tim arkeologi dipimpin DR. Ali Akbar dari Universitas Indonesia. Tim itu menemukan bukti yang mengkonfirmasi hipotesa tim bahwa di bawah tanah Gunung Padang ada struktur bangunan buatan manusia yang terdiri dari susunan batu kolom andesit, sama seperti struktur teras batu yang sudah tersingkap, dan dijadikan situs budaya di atas bukit. Terlihat di kotak gali permukaan fitur, susunan batu kolom andesit ini sudah tertimbun lapisan tanah setebal setengah sampai dua meter yang bercampur bongkahan pecahan batu kolom andesit.
Kotak gali arkeologi Tim Dr. Ali Akbar UI. memperlihatkan permukaan bangunan yang disusun dari batu-batu kolom andesit yang sudah tertutup oleh lapisan tanah dengan bongkah-bongkah pecaan batuan. Batu kolom ini posisinya memanjang sejajar lapisan.
Batu-batu kolom andesit disusun dengan posisi mendekati horizontal dengan arah memanjang hampir barat-timur (sekitar 70 derajat dari utara ke timur - N 70 E), sama dengan arah susunan batu kolom di dinding timur-barat teras satu, dan pundak lereng terjal yang menghubungkan teras satu dengan teras dua. Dari posisi horizontal batu-batu kolom andesit dan arah lapisannya, dapat disimpulkan dengan pasti, bahwa batu-batu kolom atau “columnar joints” ini bukan dalam kondisi alamiah.
Batu-batu kolom hasil pendinginan dan pelapukan batuan lava/intrusi vulkanis di alam maka arah memanjang kolomnya akan tegak lurus terhadap arah lapisan atau aliran seperti ditemukan di banyak tempat di dunia. Kenampakan susunan batu-kolom yang terkuak di kotak gali memang terlihat luarbiasa rapi seperti layaknya kondisi alami saja.

Di Situs Gunung Padang ini, terdapat beberapa keunikan tersendiri. Misalnya nih; pas kita baru mau menaiki anak tangga untuk menuju ke atas, kita akan di sambut oleh sumur tua yang saat itu dipercayai sebagai sumur yang suci. Airnya uuuuuh.... Mantap! Seger sekali pemirsa. Kita juga boleh ngambil air yang ada di dalam sumur tersebut. Sumber air ini berasal dari atas Gunung Padang langsung. Selain sumur saat kita sampai di atas, kita akan melihat batuan-batuan yang fungsinya beraneka ragam. Contoh terdapat batu yang menyerupai alat musik untuk degung. Batu ini dilapisi oleh besi, sehingga bisa berbunyi. Kemudian ada tapak maung. Maksud tapak maung di sini adalah tempat orang-orang yang tidak pantang menyerah. Selain itu ada tempat singgah sana untuk Raja di teras ke-5 atau teras paling atas dari situs ini. Dan masih banyak keunikan lainnya, lo harus kudu wajib pokonya dateng ke sini!


Batu yang dipercaya digunakan sebagai alat musik
Sumur yang dipercayai suci

Kondisi jalan menuju Situs Gunung Padang
Nah maksud gue membuat tulisan ini supaya kalian semua mau dateng ke tempat yang indah ini, gue ingin kalian mengenal peninggalan-peninggalan sejarah yang terdapat di Indonesia. Ternyata bukan Candi Borobudur aja yang indah, tapi Situs Gunung Padang ini nggak jauh indah dan keren. Meskipun trek untuk mencapai tempat ini sedikit kurang bagus dan jalannya kecil, kalian harus hati-hati. Percaya nggak percaya orang luar negeri yang datang ke sini aja sampe muji-muji keindahan alam yang terpampar indah di lihat dari teras ke lima di Situs Gunung Padang ini. So, apa yang kalian tunggu? 
Ayo kita buat Situs Gunung Padang ini menjadi 
terkenal sampai mancanegara :)

CINTAILAH KEINDAHAN DALAM NEGERI, DALAM NEGERI TETAP HARUS DILESTARIKAN DAN DIJAGA UNTUK DICERITAKAN KEMBALI KEPADA ANAK DAN CUCU KITA!!!




Sumber Informasi & Dokumentasi:
Wawancara langsung 
dengan narasumber, 
Dokumentasi pribadi.
creative by: Zahra Nurul F